May 23rd, 2009

Bukan Megawati, Tapi Firaun

by Emha Ainun Nadjib

Tiga hari sebelum berangkat ke Mesir ada delapan orang tamu mendatangi pos maiyah di Kasihan Bantul Jogja. Mereka bercerita panjang tentang perjalanan thariqat mereka, dan di ujungnya berkata tentang Firaun — padahal mereka tidak tahu bahwa kami akan berangkat ke kampungnya tokoh yang mereka sebut itu.

Seluruh pembicaraan mereka berpusat pada keprihatinan tentang keadaan sakit Indonesia yang tak kunjung sembuh. Dan puncak tema yang mereka tuturkan kepada saya sangat sederhana:

“Cak Nun lebih tahu dari kami, bahwa sesungguhnya dalam hal kedhaliman di negeri ini yang terpenting yang harus dilawan bukanlah Megawati atau tokoh dan kelompok penguasa yang manapun. Cak Nun tahu bahwa tokoh-tokoh itu hanyalah boneka, sedangkan penguasa yang sesungguhnya adalah Firaun. Cak Nun tahu bahwa kematian itu hanya sebuah pengertian, tetapi kenyataan kematian yang sebenarnya tidaklah seperti yang disangka oleh masyarakat modern sekuler”.

“Firaun masih terus mengumbar enerji negatifnya, sebagaimana Rasulullah SAW dan para Nabi dan Rasul yang lain juga terus hidup dan menghidupi jiwa perjuangan kita. Maka kami mohon hendaknya Cak Nun mulai mengurangi pelaksanaan tugas-tugas yang kecil-kecil, dan mulai membereskan yang besar. Hanya Cak Nun yang bisa mengalahkan Firaun, dan hanya itu satu-satunya jalan untuk mengembalikan Indonesia kepada kesehatan hidupnya….”

Anda tidak perlu berpikir untuk mengerti bahwa pasti saya kebingungan akan menjawab bagaimana. Anda pasti juga bertanya-tanya Firaun yang merajalela di Indonesia ini Firaun yang mana. Yang dari Dinasti Mina 15.000 tahun yll, ataukah Ramses bapak angkatnya Musa 3000 tahun yll, yang botak, berambut putih di bagian belakang, yang berhidung betet dan berbadan tinggi kekar, atau Cheup perintis pendirian piramid, atau putranya si Khafra yang memuncaki teknologi piramid? Yang mana yang rewel? Firaun yang berkulit putih, berkulit coklat ataukah yang berkulit hitam?

Tentu Anda juga berpikir kontekstual. Di samping de fakto enerji dan roh yang tamu-tamu itu maksudkan, tentu juga ada relasi terhadap segala potensi perilaku manusia yang bersifat firaunistik: segala gejala penuhanan diri, kekufuran, kemusyrikan, keangkuhan, politik takabur, industri api pelalap dan pemusnah kemanusiaan, teknologi informasi sihir…yang Musa diperintah oleh Allah untuk melawannya dengan Tongkat Tauhid….

Jadi saya menjawab sekenanya: “Ok-lah beberapa hari lagi insyaallah akan saya datangi Firaun, baik di lubuk kedalaman piramid maupun mumminya yang di museum”.

Kemudian di Mesir bahkan kami datangi juga Qorun yang ditenggelamkan oleh Allah harta kekayaannya. Bersama KiaiKanjeng kami melakukan perjalanan keliling Mesir membawa Tauhid, Kalimah Syahadat dan Shalawat kepada Nabi. Kami dengan semua yang mendengarkan menangis bersama-sama. Menangis, mencair, terkuak tabir, dipasar, dijalanan, didesa-desa, dipantai, didanau, digedung pertunjukan, dirumah-rumah, digurun pasir, di bangunan gua-gua pusat pertahanan militer Israel….

16 Responses to “Bukan Megawati, Tapi Firaun”

  1. budi says:

    assalamualaikum..

    kepada : kiai kanjeng..

    saya dulu pernah punya rekaman “lautan jilbab” kiai, yang versi live di campus-campus. sekarang sudah hilang. saya ingin sekali pempunyai rekaman tersebut. jika kiai masih mempunyai rekaman tersebut dalam bentuk yang sudah di formatkan ke MP3 atau apapun formatnya, bisakah saya memilikinya kembali?

    terimakasih

    assalamualaikum..

  2. aristi umar says:

    Cak Nun tulungono lah Indonesia ini, perahumu wis keciliken, gantio perahu kalifah!

  3. Ivan says:

    Dukung Cak Nun jadi Presiden!

  4. wulan says:

    selalu suka banget sama tulisan2nya cak nun

  5. rizky165 says:

    firaun kalau perang tanding dengan raden patah menang siapa ya?

  6. Abi Dekha says:

    SubhanaAlloh.. Maha Suci Alloh yang memperjalankan Cak Nun dan Kiai Kanjeng Menebarkan Kebaikan dan Kalimat Tauhid..

    Salam Rindu Maiyah

  7. haye says:

    kalo kematian hanyalah sebuah pengertian maka apa sebenarnya maksud kehidupan??

    salam hormat, sayang, dan rindu kejernihan

    wong njombang

  8. anggita says:

    kurang begitu faham :(

  9. Mas Karyo says:

    waahh kabeh podo ketularan Cak Nun.. podo pinter2..

  10. mie says:

    ijik uakeh masyarakat indonesia sing seharuse butuh tp durung sempat mengenal sentuhan cara berbudaya sampean cak nun..

  11. fauzan says:

    mantap…………………..

  12. cholidin says:

    cak nun atau kru kiai kanjeng sy ingin tahu jadwal pengajian kiai kanjeng yg di semarang seperti hal nya jadwal rutin tiap tanggal 17 di kasihan bantul, semasa sy kuliah di jogja sy kerap mengikutinya. tolong dong infokan tempat dan tanggal rutinnya yg dis emarang , setahu sy ada jg kan di semarang. sy kangen tpi hnya bs lihat lewat rekaman video di you tube.

    ini nomer sy 085641543444 atas nama muhammad cholidin. trimakasih

  13. am mirfani says:

    kematian mang subuah pengertian. kehidupan? itulakah realita keabadian?

  14. sucipto says:

    cak nun, dimohon dengan hormat minta do’anya buat kandungan istri saya yg sedang hamil 7 bulan, isinya ada dua alias kembar, kelak dewasa nanti otak dan kemampuannya kaya panjenengan. trima kasih.

  15. aradas says:

    assalamualaikum

    salam hormat saya untuk guru besar saya,Emha ainun najib…subhanallah..semoga Allah senantiasa menyayangimu dan mencintai keluargamu…wahai guru besarku amin ya rabb..

    wassalamualaikum

  16. Catur W. Adie says:

    Lebih baik Cak Nun ndak jadi presiden, terlalu kecil…