May 31st, 2009

Kiaikanjeng Terus Berjalan

by

KiaiKanjeng mensyukuri lahirnya album Terus Berjalan sebagaimana KiaiKanjeng mensyukuri segala sesuatu yang dialami dan dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari termasuk seperti saat ini ketika misalnya KiaiKanjeng sedang berada di Abu Dhabi untuk acara Indonesian Cultural Night 2008 20-25 November 2008 di Gedung Cultural Foundation Abu Dhabi. Sebelumnya di negeri Kincir Angin Belanda selama kurang lebih 2 minggu (6-20 Oktober 2008).

Album Terus Berjalan

Album Terus Berjalan

Di negeri Belanda itu, KiaiKanjeng datang tidak terutama untuk berkesenian, melainkan datang membawa hatinya untuk menyapa masyarakat di sana, membawakan lagu-lagu untuk mempererat persaudaraan di antara orang yang berbeda latar belakangnya, terutama latar belakang agama dan budayanya, terlebih lagi tatkala ketegangan antar manusia kerap mengemuka.

Kemana-mana yang dibawa KiaiKanjeng adalah “manusia”-nya. Bertemu orang, dari pelosok desa hingga kota-kota di mancanegara, KiaiKanjeng lebih dulu menyodorkan sisi manusia dirinya. Manusia dimanusiakan lebih dulu oleh KiaiKanjeng. Agaknya itu dilakukan karena hidup di zaman modern ini telah membuat manusia tercabik-cabik ke dalam kotak-kotak sempit politik, ekonomi, golongan, ideologi dan berbagai kotak lainnya. Musik dan kesenian, lirik dan lagu, nada dan irama yang dihasilkan KiaiKanjeng lebih banyak “mengabdi” untuk usaha memanusiakan kembali manusia.

Itu tidak berarti bahwa sisi-sisi kualitiatif musikalitas menjadi dinomorduakan. Sama sekali bukan. Bahkan sebaliknya, justru dalam rangka menjalankan proses “nonkesenian” yang disebut memanusiakan itu tadi, KiaiKanjeng makin terlecut untuk lebih kreatif dan berprestasi, kendatipun itu bukan orientasi pertama dan utama. Semoga bukan suatu kesombongan: tahun 2005 KiaiKanjeng mendapat kesempatan pentas di Italia, dan mendapat kehormatan untuk tampil di museum musik klasik dunia di Napoli tempat musisi kelas dunia pernah menggelar konser mereka seperti Guiseppe Verdi, Robert Wagner, Guiseppe Tartini, dan Antonio Vivaldi. Di situ, KiaiKanjeng meninggalkan cinderamata berupa naskah notasi karya mereka, Pambuko I, Pambuko II dan demung.

Di London Inggris, pada tahun 2005, KiaiKanjeng juga mendapatkan kehormatan untuk tampil dalam acara Islamic Award for Muslim Excellence yang dihadiri para pemuka Muslim di Eropa. Di Mesir, tahun 2003, KiaiKanjeng tampil dan mendapatkan sambutan hangat dari publik Mesir dan membuat mata mereka sedikit terbuka tentang Indonesia. Beberapa hari lagi, 21 Oktober 2008, setibanya dari Belanda, KiaiKanjeng telah genap mengunjungi 29 kota di luar negeri.

Tetapi yang lebih melegakan adalah ketika KiaiKanjeng mendengar kesaksian murni dari audiens tentang penampilan mereka. Sebut misalnya Egbert Van Velahuizen tokoh agama Kristen Windesheim yang mendengarkan musik-musik KiaiKanjeng saat mereka tampil di Universitas Windesheim Belanda beberapa hari lalu. Ia mengatakan,” Lagu yang kalian mainkan telah menyentuh hati saya. Kalian telah mengajak manusia untuk hidup bersama secara damai. Kalian membawa kami untuk membuka sebuah lembaran baru, sebuah dunia yang lebih baik.”

Atau mungkin boleh juga menyimak pernyataan Tom America, seorang komponis terkenal Belanda yang tinggal di Amsterdam. Ia adalah salah seorang yang sangat antusias mengikuti pertunjukan dari awal hingga akhir saat KiaiKanjeng tampil di Gedung teater De Nobelaer Anna van Berchemlaan 2, 4872 XE Etten-Leur Netherlands dalam rangkaian tur Emha Ainun Nadjib dan KiaiKanjeng ke Belanda 6-20 Oktober ini. Ia menyatakan bahwa dia merasa mendapat pelajaran berharga dari penampilan KiaiKanjeng. Belum pernah ia menyaksikan pertunjukan seperti yang KiaiKanjeng pertontonkan; sebuah instrumen musik tradisional –dengan segala keterbatasannya, mampu meramu dan menampung lagu dan jenis musik dari seluruh benua. Itu menjadi luar biasa, karena bisa menjadi simbol bahwa perbedaan budaya, agama, ras, bangsa dan sebagainya bisa di”satukan” lewat musik.

Egbert Van Velahuizen dan Tom America masih punya teman, tetapi semua kesaksian itu tidak membuat KiaiKanjeng GR. Sebaliknya itu semua memacu mereka untuk Terus Berjalan. Lebih-lebih budayawan Emha Ainun Nadjib sebagai bagian tak terpisah dari proses kehidupan KiaiKanjeng (mulai soal kreativitas, pandangan hidup, hingga soal-soal daily life) terus membesut mereka untuk tak jemu-jemu menjadi manusia yang sebisa mungkin murni sebagai manusia, di manapun mereka hadir, di manapun mereka bertemu beragam masyarakat.

Itu sebabnya, di tanah air misalnya, kerap kali kehadiran KiaiKanjeng dan tentunya Emha Ainun Nadjib itu diam-diam atau tidak diam-diam membawa suatu “tugas” khusus umpamanya untuk mendamaikan pihak-pihak yang bersitegang, menghibur mereka yang kesepian, atau membantu mencari ilmu bagi mereka yang bingung atau terbingungkan, dengan pertama-tama meletakkan manusia sebagai subjek utama — tentu disertai upaya menegakkan objektivitas — dalam menganalisis suatu masalah. Jadilah musik KiaiKanjeng diaransemen untuk mempermudah proses komunikasi sosial, dan ini adalah sesuatu yang unik.

Barangkali karena itulah posisi KiaiKanjeng dalam dunia musik agak tidak berada dalam peta mainstream, walaupun KiaiKanjeng yang wajah orang-orangnya menyiratkan bahwa mereka adalah orang biasa, sederhana, mungkin juga ndeso, tetapi toh mereka tidak canggung jika harus berkolaborasi dengan para pemusik “resmi” seperti Cat Steven, atau kelompok penerusnya Ummi Kultsum di Mesir.

Album Terus Berjalan ini memang bisa berarti secara harfiah bahwa personel-personel KiaiKanjeng terus berjalan dengan menggotong sendiri seabrek alat musik, saron, demung, keyboard, terbang dan lain-lain ke berbagai tempat di muka bumi ini, seperti ketika mereka beracara di Finlandia 2006, namun di balik perjalanan mereka, tatapan mata mereka tetaplah ke depan. KiaiKanjeng terus berjalan, sebagaimana Anda dan kita semua juga harus terus berjalan.

Album Terus Berjalan ini berisi 8 lagu. Diproduksi oleh Progress Yogyakarta dan distribusinya ReMZ Music Jakarta. Resminya Album sudah beredar pertengahan November lalu.

6 Responses to “Kiaikanjeng Terus Berjalan”

  1. dhamiry says:

    Assalamulaikum…
    mohon minta jadwal kiaikanjeng..ato nmer yang bisa di hubungi…
    trimakasih

  2. Lalu Ari Irawan says:

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Cak Nun & Kiai Kanjeng yang saya kagumi…
    Saya seorang pecinta Anda semua di Pulau Lombok. Saya pernah menyaksikan pertunjukan Cak Nun & Kiai Kanjeng dlm acara DIES NATALIS Universitas Negeri Surabaya pertengahan Desember 2010.
    Saya berharap suatu saat bisa tampil di Pulau Lombok biar Nasionalisme dan Agama bisa dibahas dalam acara yg sama.
    Tapi saya agak minder waktu Kiai Kanjeng maenin musik dr berbagai daerah, tak satupun lagu dari Pulau Lombok yg dimainkan, malah lolos ke timur. pdhal kami jg punya tradisi gamelan khas SASAK, sesuai nama suku bangsa kami.
    Orang Sasak memiliki kekerabatan yang cukup dekat dengan Jawa, sehingga dalam bahasa pun kita banyak dapat menemukan persamaan. Menurut para ahli bahasa, Bahasa Sasak adalah Bahasa Jawa masa pertengahan dulu.
    Kalu boleh usul, dalam kesempatan ini saya memohon salah satu lagu daerah kami digubah jg dong. alternatif judulnya antara lai: Amaq Teganang Inaq Tegining, Kadal Nongak, Aduh Mule, Angin Alus, dan masih banyak lagi pilihannya. Alangkah bangganya kami kalau hal itu terwujud.
    Tetap salut dengan Cak Nun dan Kiai Kanjeng.

    Wassalam.
    Hormat saya,

    Lalu Ari Irawan (ari_bz@yahoo.com)

  3. K.A Rahman Ghani says:

    assalamualaikum.wr.wb

    saya berencana menikah dan sangat bercita-cita bisa mendatangkan cak nun n kyai kanjeng.kalau tidak keberatan aapakah saya boleh minta alamat lengkapnya…no telf, contact person..

    terimakasih

    ghani

  4. nongke says:

    assalamualaikum wr. wb
    pak emha saya berencana mengundang utk pengajian di jakarta bagaimana saya menghub bapak dan administrasinya? telp saya 08122770755 makasih sebelumnya.

    nongke

  5. Redaksi says:

    Silakan hubungi PROGRESS (0274) 618810

    Nuwun.

  6. lilo says:

    Assalamu’alaikum…
    Saya salah satu pengagum kyai kanjeng di surabaya
    Beberapa tahun yang lalu cak nun dan group pernah ke daerah Kampung Pucangan surabaya, saya ikut mengikuti acara itu sampai selesai…
    Saya dan pengurus mushollah di daerah saya berencana mengundang cak nun,
    perlu di ketahui daerah saya sangat majemuk banyak keluarga gakin (satu rw, rt paling banyak gakinnya), banyak pemabuknya, pedagang miras…. banyak pengangguran… tapi juga tidak sedikit yang suka ke musholla (ada mushollah, tpq, hadroh dsb.).
    Kami berharap kehadiran Cak Nun bisa menggugah hati saudara-saudara di sekeliling kami yang selalu berdekatan dengan kejahatan itu menjadi sadar. dengan dakwah yang disampaikan cak nun. Kami yakin Cak Nunlah yang paling bisa dengan rakyat kelas bawah. Mohon kami diberi informasi bagaimana caranya bisa menghadirkan Cak Nun di wilayah kami.
    Terima kasih atas perhatian dan kehadirannya..
    Wassalamu.alaikum
    Lilo